Dokter

Memang sedikit aneh hehehe tapi masih bisa dibaca kok J,

Oh iya, ada kutipan nih dari Om Elbert :

Yang dianggap supranatural sesungguhnya adalah hal biasa yang belum dipahami.

                         Elbert Hubbard

………………….

12 April 2016 di RS. Daerah Rawan

“Hei, Dokter!”

Itu seperti suara seseorang. Apa dia memanggilku ? Saat ini aku sedang melintas di depan bangsal inap VVIP rumah sakit ini. Yang aku tau dari rekanku adalah jalan pintas dari UGD ke bangsal kliknik spesialis. Well, aku Kimo, dokter spesialis jantung baru di sini. Sebenarnya aku berasal dari Negeri Atas Awan dan dimutasi kesini sebulan yang lalu.

Oh , kembali ke soal suara tadi, aku behentei dan melihat sekeliling. Tak ada dokter lain disini, sepi seperti biasanya. Aku pun hanya menggedikkan bahu. Mungkin kau salah dengar Kimi, yaa benar, kau memang lelah.

“Hei Dok, Dokter !!!” , seru suara itu lagi. Kali ini lebih keras. Aku pun memundurkan langkahku dan berhenti di depan pintu ruang 102. Saat aku melongokkan kepala kedalam, aku melihat seorang pria, eh remaja dengan rambut pirang dan berwajah pucat berpakaian pasien sedang duduk di tempat tidurnya.

“Oh, hai pirang”, ucapkku sambil tersenyum simpul.

Ia angkat bicara lagi sebelum aku sempat membuka mulut lagi.

“Wah, anda masih mengingat saya? Anda yang merawatku di lantai 5 dulu”, katanya. Bisa ku tangkap ada sedikit guratan kaget di wajahnya. Well, dia pemuda yang manis hahaha

“Maaf nak, tapi tugasku di bangsal specialis dan UGD. Aku bahkan belum sempat ke lantai 5. Kamu pasti salah mengenali orang, nak.”, terangku seraya mengacak pelan rambutnya.

“ish dokter, rambutku kan jadi tidak keren lagi”, katanya  sedikit merajuk. Hahaha aku jadi ingat Kido adikku, mungkin mereka seumuran.

“Maaf maafkan aku hahaha, sudah ya, aku ada keperluan lain nak”, kataku menuju pintu. Namun langkahku berhenti ketika ia memegang tanganku.

“Jangan pergi dulu,” katanya sambil menjentikkan jari-jari kurusnya.” Nama anda adalah….ah, coba ku ingat-ingat dulu….”

Ketika berpaling, aku melihatnya sedang berpikir sambil memandangi langit-langit, wajah pucatnya setengah tersenyum. Kemudian menatapku lagi.

“aha, Mo, Kimo, dokter Kimo, betul kan ? hmmm,,,,seingatku waktu itu rambut Anda berwarna ungu keperakan, bukan?”

Aku sejenak tertegun. What , aneh memang ungu keperakan. Memang sejak datang dari Negerai Atas Awan ke Daerah Rawan rambutku berwarna ungu keperakan dan baru 2 hari lalu aku menubahnya menjadi coklat madu, biar ada manis-manisnya hehe. Yah intinya agar tak terlalu mencolok.

“Kamu betul”, jawabku sambil diam-diam ku lirik ke dadaku memastikan apa ia melihat name tag ku? Ah, aku baru ingat benda itu tertinggal di UGD. Kemudian aku mengamati wajahnya lebih seksama, mungkin dapat memulihkan ingatanku. Ahh ayolah Kimo get your ass together !!! come on kau belum setua itu untuk pikun. Emm,,matanya lembut, coklat hazel bercahaya. Rambutnya pirang membingkai wajah tirus pucatnya, seperti yang ku bilang tadi. Tapi….ok fine aku nyerah.

“Maaf. Nak. Aku aku benar-benar belum pernah bertugas sampai ke lantai 5. Ruanganku di lantai 2 dan UGD di lantai 1. Dan kita pun ini masih di lantai 2. Aku betul – betul tak mengingatmu” , sesalku setengah malu.

“Ah, tak apa dokter Kimo. Aku hanya senang saja dapat bertemu anda kembali. Anda datang ke kamarku kira-kira seminggu yang lau. Jantungku tiba-tiba berhenti dan anda memasang alat seperti setrikaan baju itu di dadaku. Kemudian anda meneriakkan sesuatu dan meminta semua orang menjauh. Anda mengoperasikan alat itu dan tarraa …..aku dapat hidup kembali.”, kenangnya lalu tersenyum manis.

Mendadak ingatanku pulih kembali. Aku pernah berada di situasi itu, ya sekitar semingguan yang lalu karena panggilan darurat. Tapi waktu itu ia benar-benar orang yang berbeda—diam seperti mayat, pupil mata terbuka lebar dan wajanya merah keunguan.

“Ah ya, siapa yang memberi tahumu bahwa aku yang menolongmu saat itu, Nak. Apakah orang tuamu?”, tanyaku dengan rasa ingin tahu maksimal.

Ia tertawa dan memandangi langit-langit lagi. Sebernarnya ada apa dengan langit-langit, ??? Kenapa langit kau kenapa, aish kenapa aku jadi ngawur begini.

“Bukan. Tidak ada yang memberi tahuku, Dok. Aku ada di langit-langit mengamati Anda bekerja. Itu sebabnya aku dapat melihatmu dan mengenalimu tadi. Dan ketika anda berpaling ke monitor, aku dapat melihat wajah tampan anda. Oh ya, mana kacamata anda?”, ia memandangku lagi

“Ah, aku hanya memakainya saat bertugas saja “

“Aku senang bisa melihat dokter lagi.”, ucapnya. Tiba-tiba senyumnya pudar tergantikan dengan wajah sendu.

“hei nak, kamu kenapa hmm?”, aku pun mendekatinya lagi sambil mengelus surainya. Ya ampun, ternyata posisiku tak berubah sejak aku hendak keluar dan tangannya pun masih memegang pergelangannku.

“Tidak apa-apa Dok, aku hanya teringat orangtuaku saja”

“Kenapa?”

“Mereka sudah di surga dan aku nyaris menyusul mereka. Aku merasa begitu merepotkan pamanku selama ini”

“orangtuamu …..ah maafkan aku tadi menyinggung soal mereka. Sstt jangan becara begitu ne. Kamu harusnya bersyukur masih diberi kesempatan dan ada paman yang menyayangimu. Sudah jangan bersedih, hmm”

Ia memandang ke arahku lagi. Aku dapat melihat bahwa ia tengah bergulat mengendalikan emosinya. Aku jadi menyesal menyinggung tentang orangtuanya tadi. Hmm

“Dokter, aku ingin berterimakasih,,,,terimakasih banyak sekali……..”, ia tiba memelukku. Aku pun membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya.

Kini tiap kali aku melintasi ruang 102, sebuah perasaan hangat bergejolak dalam diriku. Aku bersyukur karena mengambil jalan pintas hari itu, juga bersyukur karena aku bersedia melayani panggilan “Hei, Dokter”, itu. Ah, aku harus segera ke ruang bedah. Bagaimana kabar anak itu ya ? ia sudah keluar seminggu yang lalu. Aku memang masih muda, 25 tahun namun aku serasa seperti menjadi Ayah ketika bertemu dengannya. Apa mungkin lelaki 25 tahun single memiliki putra berusia 18 tahun ? mungkin saja sih hahaha temanku umur 20 tahun saja sudah beranak besar hehehe sekian ceritaku. Sampai jumpa ………………

.

.

.

.

Cukuplah buat bekal tidur 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s